Refleksi Implementasi Aksi Nyata
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
Tujuan Pembelajaran Khusus :
CGP dapat mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip,
dan pengujian keputusan di sekolah CGP.
Berikut adalah pemaparan Aksi Nyata Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan
sebagai Pemimpin Pembelajaran yang berisi 4 P yaitu Peristiwa, Perasaan,
Pembelajaran dan Penerapan yang akan saya lakukan terhadap aksi nyata modul
3.1.
Peristiwa
Latar Belakang masalah yang dihadapi adalah masalah saya sendiri.
Kasus yang terjadi adalah kisah nyata yang dialami oleh CGP sendiri
(Imam Muhlis).
Saya adalah guru Bahasa Indonesia SMK, yang sejak tahun 2020 hingga kini
mempunyai tugas / kegiatan tambahan sebagai Kapala Perpustakaan. Selain itu
saya juga sedang mengikuti kegiatan Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 7.
Pada tahun pelajaran 2022 / 2023 saya diminta untuk menjadi pembina
ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus mengelola Jurnaslistik
Sekolah.
Saya merasa bimbang, apakah saya sanggup mengerjakan semua amanah ini
bersamaan? menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus
mengelola Jurnaslistik Sekolah, mengikuti pelatihan Guru Penggerak, dan
menjadi Kepala Perpustakaan ?
Alasan mengapa melakukan aksi nyata ini adalah yang pertama untuk
mempraktikkan ilmu yang sudah saya pelajari pada modul 3.1, selanjutnya
saya ingin membuat keputusan yang tepat terhadap dilema etuka yang saya
hadapi.
Berikut adalah hasil aksi Nyatanya
A. Dilema etika yang terjadi
Benar versus Benar. Memang benar saya lebih berkonsentrasi menjadi Kepala
Perpustakaan dan mengikuti Pelatihan Guru Penggerak karena semua itu untuk
meningkatkan kualitas saya sebagai seorang Guru. Dan memang benar juga saya
ikut berpartisipasi menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja
sekaligus mengelola Jurnaslistik Sekolah, karena memang saya berkewajiban
sebagai Guru untuk menjadi bagian dari program pengembangan peserta didik,
sebagai bukti bhakti saya kepada sekolah tempat saya mengajar.
B. Paradigma Dilema etika yang terjadi : Individu lawan kelompok
(individual vs community)
Saya sebagai seorang individu yang mempunyai hak untuk menolak menjadi
pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus mengelola
Jurnaslistik Sekolah, karena kesibukan saya sebagai Kepala Perpustakaan dan
mengikuti Peatihan Guru Penggerak angakatan 7. Ada ketakutan saya tidak
bisa mengemban amanah sebagai menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah
Remaja sekaligus mengelola Jurnaslistik Sekolah dengan baik,karena belum
dapat memanage waktu dengan baik.
Sekolah sebagai komunitas (kelompok / masyarakat) menginginkan saya untuk
menjadi menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus
mengelola Jurnaslistik Sekolah, karena memang ide, gagasan saya diperlukan
untuk kesuksesan pengembangan program sekolah. Dan memang sudah menjadi
kewajiban saya sebagai Guru harus berpartispasi aktif dalam kegiatan dan
kemajuan sekolah tempat saya mengajar.
C. Prinsip pengambilan keputusan : Berpikir berbasis rasa peduli (Care
Based Thinking)
.
Saya sebagai Guru mempunyai kepedulian terhadap kepentingan sekolah
(komunitas), saya lebih mengedepankan kepentingan sekolah (komunitas)
daripada kepentingan individu.
D. Memuat 9 langkah pengambilan keputusan
1. Apa nilai-nilai yang saling bertentangan dalam kasus tersebut?
Nilai-nilai yan saling bertentangan dalam kasus tersebut adalah Individu
lawan kelompok / masyarakat (individual vs community) .
Saya sebagai seorang individu yang mempunyai hak untuk menolak menjadi
menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus mengelola
Jurnaslistik Sekolah, karena kesibukan saya sebagai Kepala Perpustakaan dan
mengikuti Peatihan Guru Penggerak angakatan 7. Ada ketakutan saya tidak
bisa mengemban amanah menjadi menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah
Remaja sekaligus mengelola Jurnaslistik Sekolah dengan baik,karena belum
dapat memanage waktu dengan baik.
Sekolah sebagai komunitas (masyarakat) menginginkan saya untuk menjadi
menjadi menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus
mengelola Jurnaslistik Sekolah, karena memang ide, gagasan saya diperlukan
untuk kesuksesan pengembangan program sekolah. Dan memang sudah menjadi
kewajiban saya sebagai Guru harus berpartispasi aktif dalam kegiatan dan
kemajuan sekolah tempat saya mengajar.
2. Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut ?
Saya sebagai individu yang mengalami dilema etika.
Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah sebagai pihak yang membuat SK
pembagian tugas.
3. Apa fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut
- Kepala Sekolah dan Jajaran Managemen Sekolah menginginkan saya
berpartisipasi aktif menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah
Remaja sekaligus mengelola Jurnaslistik Sekolah.
- Saya mempunyai tugas lain selain sebagai Guru di sekolah, saya juga
sebagai Kepala Perpustakaan dan sedang mengikuti Pelatihan Guru Penggerak
angkatan 7 selama berbulan-bulan dengan beragam kegiatan yang telah
terstruktur.
- Saya mempunyai kebimbangan akankah saya sanggup untuk mengemban amanah
semuanya, dan dapat melaksanakan dengan baik, karena saya belum bisa
memanage waktu dengan baik.
4. Mari kita lakukan pengujian benar atau salah terhadap situasi
tersebut
-
Apakah ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi tersebut? (Uji
legal)
Tidak ada aspek pelanggaran hukum dalam situasi
- Apakah ada pelanggaran peraturan/kode etik profesi dalam kasus
tersebut? (Uji regulasi)
Tidak ada pelanggaran peraturan/kode etik dalam kasus tersebut
Berdasarkan perasaan dan intuisi Anda, apakah ada yang salah dalam situasi
ini? (Uji instuisi)
Tidak Ada yang salah dalam dalam situasi tersebut.
- Apa yang anda rasakan bila keputusan Anda dipublikasikan di halaman
depan koran? Apakah anda merasa nyaman?
Jika keputusan yang saya ambil dalam kasus seperti ini dipublikasikan, maka
saya akan merasa nyaman tidak akan merasa terganggu dengan viralnya atas
keputusan saya, karena siapa tahu bisa menjadikan inspirasi atas masalah
orang lain yang memiliki kasus serupa.
Kira-kira, apa keputusan yang akan diambil oleh panutan/idola Anda dalam
situasi ini?
Keputusan yang akan diambil oleh idola atau panutan saya adalah akan
melaksanakan semua amanah yang diberikan dengan baik, berlatih memanage
waktu sebaik mungkin, mengerjakan secara optimal pada tiap amanah yang
diberikan, dan selalu menganggap bahwa pekerjaan kita adalah hal yang kita
suka dan cinta sehingga mengerjakan dengan bahagia tanpa beban.
5. Jika situasinya adalah situasi dilema etika, paradigma mana yang
terjadi pada situasi tersebut?
Paradigma Dilema etika yang terjadi : Individu lawan masyarakat (individual
vs community)
Saya sebagai seorang individu yang mempunyai hak untuk menolak menjadi
menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus mengelola
Jurnaslistik Sekolah, karena kesibukan saya sebagai Kepala Perpustakaan dan
mengikuti Peatihan Guru Penggerak angakatan 7. Ada ketakutan saya tidak
bisa mengemban amanah sebagai panitia persiapan akreditasi dengan
baik,karena belum dapat memanage waktu dengan baik.
Sekolah sebagai komunitas (kelompok / masyarakat) menginginkan saya untuk
menjadi menjadi pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus
mengelola Jurnaslistik Sekolah, karena memang ide, gagasan saya diperlukan
untuk kesuksesan akreditasi sekolah. Dan memang sudah menjadi kewajiban
saya sebagai Guru harus berpartispasi aktif dalam kegiatan dan kemajuan
sekolah tempat saya mengajar.
6. Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, prinsip mana yang akan dipakai
Prinsip pengambilan keputusan : Berpikir berbasis rasa peduli (Care Based
Thinking).
Saya sebagai Guru mempunyai kepedulian terhadap kepentingan sekolah
(komunitas), saya lebih mengedepankan kepentingan sekolah (komunitas)
daripada kepentingan individu.
7. Apakah ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir
sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma)?
Ada, yaitu saya memberi saran kepada Kepala Sekolah dan jajaran Managemen
Sekolah untuk mencari guru pengganti saya sebagai pembina ekstrakurikuler
Karya Ilmiah Remaja sekaligus mengelola Jurnaslistik Sekolah. Karena supaya
lebih berkonsentrasi dalam menjalankan tugas sebagai pembina
ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja sekaligus mengelola Jurnaslistik
Sekolah.
8. Apa keputusan yang akan Anda ambil?
Atas perasaan tanggung jawab dan kepedulian terhadap program dan kemajuan
sekolah, maka saya akan merasa terpanggil untuk menerima dan melaksanakan
tugas serta amanah yang dipercayakan kepada saya dari Sekolah meskipun saya
sangat sibuk.
9. Coba lihat lagi keputusan Anda dan refleksikan.
Dengan keputusan yang sudah saya ambil, terdapat konsekuensi yang harus
saya lakukan yaitu belajar untuk memanage waktu sebaik mungkin, sehingga
saya bisa melaksanakan semua amanah ini dengan sangat baik,
Jika samapai gagal dalam memanage waktu dengan baik, maka konsekuensinya
semua amanah ynag diberikan kepada saya tidak bisa dilaksanakan dengan
baik, hal ini dapat merugikan pihak sekolah. Untuk itu saya harus
benar-benar bisa meanage waktu dengan baik.
Tantangan dalam memanage waktu akan membuat kualitas pribadi saya menajdi
lebih baik, untuk itu keputusan ini adalah keputusan tepat dan saya bisa
menjadi pribadi yang lebih baik.
Perasaan
Perasaan saya melaksanakan tugas aksi nyata adalah sangat antusias dan
bahagia, karena dapat mempraktikkan ilmu yang saya pelajari pada midul 3.1
mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yaitu pada kasus dilema
etika yang saya lalui. Sehingga ada perasaan apakah benar keputusan yang
saya ambil? apakah keputusan yang saya ambil sudah tepat? atau ada pihak
yang dirugikan? Jadi perasaan bahagia bercampur dengan cemas pada saat
melakukan aksi nyata pengambilan keputusan, berharap bila keputusan yang
diambil adalah yang terbaik untuk semuanya.
Pembelajaran
Pembelajaran yang saya peroleh adalah :
Keberhasilan : Saya belajar teori modul 3.1 tentang pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran, dan dari awal pelatihan modul 3.1 saya sudah
terbiasa dengan teori yang langsung di praktikkan ke sekolah, sehingga
teori tersebut dapat terekam dengan baik, dan praktik aksi nyata dapat b
erhasil di lakukan dengan lancar.
Kegagalan: Pada proses aksi nyata, saya kesulitan dalam menentukan kasus
dilema etika yang akan saya ambil untuk praktik aksi nyata, walaupun
akhirnya saya menentukan kasus yang memang sedang saya alami.
Penerapan
Penerapan yang akan saya lakukan adalah selalu mempraktikkan pengambilan
keputusan denga metode 9 langkah pengambilan keputusan di sekolah, sehingga
saya akan semakin mengerti dan terbiasa dengan model pengambilan keputusan
sebagai pemimpin pembelajaran. Selain itu saya juga akan mempublikasikan
hasil aksi nyata di media sosial, mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi
bagi Guru yang mempunyai kasus yang sama ataupun untuk diambil teori
praktik pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.